Annual Report 2018

Laporan Tahunan 2018

Yayasan Tahija didirikan 28 tahun yang lalu sebagai wadah kegiatan filantropi keluarga Tahija. Sejak awal, Yayasan Tahija merefleksikan nilai-nilai hakiki keluarga Tahija didasari oleh integritas dan diharapkan dapat membantu kemajuan Indonesia.

Sejak 2011, kegiatan utama kami adalah kegiatan penelitian pengendalian demam berdarah Eliminate Dengue Project di Yogyakarta (“EDP-Yogya”). EDP-Yogya bertujuan untuk mengembangkan solusi pengendalian penularan demam berdarah dengan metode yang efisien dan berkelanjutan melalui pemutusan rantai penularan dengan mengganti Aedes aegypti “liar” dengan populasi nyamuk Ae. Aegypti yang mengandung baketeri alami dari serangga yang disebut Wolbachia. Teknik ini awalnya dikembangan oleh Prof. Scott O’Neill di Australia, dan saat ini telah diaplikasikan oleh World Mosquito Program di beberapa negara di Asia, Ocania, termasuk Amerika Latin.

Pada tahun 2018 kegiatan penelitian EDP-Yogya memasuki Fase 3. Pada akhir fase ini kami berharap dapat dengan tanpa ragu menunjukan bahwa penggantian nyamuk liar dengan nyamuk ber-Wolbachia adalah metode yang layak dan praktis untuk mencegah penularan demam berdarah.

Keberhasilan EDP-Yogya memerlukan, tidak hanya sumber daya dan dana, tetapi juga ketekunan dan disiplin organisasi, termasuk kapasitas untuk membangun kepercayaan dan kerja sama dengan mitra kami, baik di tingkat nasional maupun global.

Disamping memastikan stabilitas jumlah populasi nyamuk ber-Wolbachia di wilayah intervensi, pada tahun 2018 kami fokus pada pengumpulan data dan bukti dampak teknologi Wolbachia terhadap penurunan kasus dengue di Kota Yogyakarta.

EDP Yogya telah mulai melakukan rekrutmen pasien yang terindikasi mengalami demam berdarah melalui Puskesmas di kota Yogyakarta

Untuk menghasilkan bukti yang terukur dan terpercaya, kami juga memastikan bahwa pengumpulan data dan bukti sesuai dengan kaidah Good Clinical Practice (GCP).

Integritas ilmiah adalah yang terpenting dalam penelitian ilmiah berbasis populasi seperti EDP-Yogya.

Kami yakin bahwa pencapaian EDP-Yogya merupakan buah dari upaya yang tiada henti dari mitra kami: Monash University melalui World Mosquito Program (WMP), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada, dan semua pemangku kepentingan terutama masyarakat, pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta baik di tingkat propinsi dan kabupaten/kota, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia.

Secara khusus kami berterima kasih kepada Yang Mulia Sultan Hamengkubuwono X, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta untuk dukungan terus menerus dan semangat yang diberikan kepada EDP Yogya.

Akhirnya saya mengucapkan terima kasih kepada Pengawas dan Pengurus Yayasan Tahija dan juga kepada seluruh tim EDP-Yogya atas dedikasi dan kerja kerasnya selama tahun 2018. Secara khusus saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Anastasius Wahyuhadi yang sejak 31 Desember 2018 telah menyelesaikan tugasnya sebagai Ketua Yayasan dan kembali menjadi anggota Pembina Yayasan. Saya juga mengucapkan selamat bergabung dan selamat bertugas kepada Bapak Trihadi Saptoadi sebagai Ketua Yayasan yang mulai bertugas pada 1 Januari 2019.

Sjakon G. Tahija
Ketua Pembina

Tahun 2018 penelitian EDP-Yogya memasuki tahap penting pengumpulan data dan bukti melalui perekrutan pasien yang terindikasi mengalami demam berdarah dengue di kota Yogyakarta.

Sumber daya manusia yang berkualitas dan profesional sangat berperan dalam penelitian ini, utamanya menciptakan inovasi-inovasi penting bagi ilmu pengetahuan oleh para peneliti Indonesia. Peningkatkan sistem dan pengelolaan sumber daya manusia terus dilakukan seperti penilaian kinerja dan peningkatan kemampuan karyawan secara sistematis, terukur dan berkala serta sosialisasi nilai-nilai hakiki Yayasan Tahija secara berkesinambungan agar integritas dan hasil penelitian ini terjaga dengan baik.

Sumber daya manusia yang berkualitas dan profesional sangat berperan dalam penelitian ini, utamanya menciptakan inovasi-inovasi penting bagi ilmu pengetahuan oleh para peneliti Indonesia. Peningkatkan sistem dan pengelolaan sumber daya manusia terus dilakukan seperti penilaian kinerja dan peningkatan kemampuan karyawan secara sistematis, terukur dan berkala serta sosialisasi nilai-nilai hakiki Yayasan Tahija secara berkesinambungan agar integritas dan hasil penelitian ini terjaga dengan baik.

Penelitian skala besar EDP-Yogya dalam rentang waktu tertentu ini memang tidak mudah. Key Performance Indicator yang jelas sangat membantu manajemen dalam mengukur dan mengevaluasi capaian proyek, termasuk pengelolaan anggaran yang efisien dan efektif.

Melalui penelitian ini, Yayasan Tahija bersyukur dapat berkontribusi pada penelitian yang penting dan sangat diperlukan di Indonesia. Semoga upaya yang dilakukan bersama semua mitra, pemangku kepentingan, dan karyawan Yayasan Tahija dapat menginspirasi organisasi filatropi lainnya untuk ikut berkontribusi mencapai Indonesia yang lebih baik melalui dukungan kegiatan penelitian.

Pada akhir kepengurusan saya sebagai Ketua dan bersama Pengurus lainnya, kami menyampaikan terima kasih kepada Pembina dan Pengawas atas kepercayaan, dukungan dan bimbingan yang diberikan dalam menyelesaikan tahapan-tahapan penelitian ini. Selamat bertugas kepada Bapak Trihadi Saptoadi sebagai Ketua Yayasan Tahija mulai tanggal 1 Januari 2019. Saya mengajak semua pihak untuk mendukung penugasan Bapak Trihadi Saptoadi sebagai Ketua Yayasan yang baru.

A. Wahyuhadi
Ketua Pengurus

First, do no harm (Sumpah Hipokrates). Profesi kedokteran dan kesehatan sangat menghayati kalimat ini. Niat mulia saja tidak cukup dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada individual pasien dan masyarakat apabila pelayanan yang diberikan tidak dapat dibuktikan aman bagi manusia. Prinsip ini berlaku pula dalam penemuan berbagai teknologi yang bertujuan untuk mengurangi penderitaan manusia.

Di seluruh dunia, Dengue atau dikenal dengan Demam Berdarah (DB) telah menghilangkan 12.500 nyawa mereka yang berusia muda maupun dewasa. Diperkirakan sejumlah 390 juta penduduk yang tinggal di Brazil, Indonesia, India, Vietnam, dan negara-negara lainnya berisiko terkena penyakit Demam Berdarah (WHO,2019). Penyakit ini telah sangat dikenali pula oleh masyarakat dan cenderung menimbulkan kepanikan seketika bila ada anggota keluarga atau tetangga yang sakit DB.

Sayangnya, teknologi kedokteran dan kesehatan masyarakat yang saat ini tersedia masih terbatas. Vaksin DB masih memerlukan pengembangan lebih lanjut sebagai upaya pencegahan DB. Pun ketika manusia tertular virus DB, belum ada pengobatan yang efektif untuk melawan virusnya. Intervensi pada nyamuk melalui upaya pemberantasan sarang nyamuk, pengasapan (fogging), pemantauan oleh juru pemantau jentik (jumantik) juga belum sepenuhnya efektif untuk mengendalikan nyamuk Ae. aegypti, pembawa virus DB. Situasi ini membuat Badan Kesehatan Sedunia (WHO) mendorong pengembangan berbagai teknologi inovatif

Bakteri alamiah Wolbachia memberikan harapan baru. Bakteri ini terdapat di sebagian besar serangga di sekitar lingkungan manusia, seperti pada capung, kupu-kupu, dan lalat buah. Namun tidak pada nyamuk Ae. aegypti. Ketika bakteri Wolbachia berhasil disuntikkan pada nyamuk Ae. aegypti dan diketahui efeknya dapat menghambat perkembangan virus DB pada tubuh nyamuk, maka perjalanan panjang di Indonesia untuk merangkai evidens teknologi ini pun dimulai.

Evidens tidak hanya dibutuhkan untuk menunjukkan efektivitas Ae. aegypti ber-Wolbachia dalam menurunkan kejadian DB, sekalipun ini tentu menjadi tujuan yang utama. Evidens juga diperlukan dalam proses pembuktian tersebut. Evidens yang menunjukkan bagaimana proyek ini memperoleh bukti melalui sebuah proses yang dapat dipercaya, mengutamakan kaidah-kaidah ilmiah serta memiliki strategi yang sistematik untuk mengidentifikasi dan mencegah harm di masyarakat. Evidens proses mencakup aspek teknologi nyamuk dan penyebarannya, pemantauan kasus DB, penerimaan masyarakat dan pemangku kepentingan, serta tata kelola dan manajemen projek penelitiannya.

Proyek  penelitian Eliminate Dengue Project Yogyakarta (EDP-Yogya) dilakukan secara bertahap dimana lima tahun pertama proyek penelitian ini mulai tahun 2011 sampai 2015 merupakan fase pengembangan fasilitas penelitian dan peningkatan kapasitas tim peneliti di Yogyakarta hingga pelepasan nyamuk Ae. aegypti ber-Wolbachia yang berhasil dilakukan pada skala terbatas di empat wilayah di kabupaten Sleman dan Bantul.

Pada bulan Oktober 2011 sampai September 2013, penelitian dilanjutkan untuk membuktikan keamanan dan kelayakan teknologi Ae. aegypti ber-Wolbachia.

Selanjutnya pada Oktober 2013 sampai Desember 2015, EDP-Yogya melanjutkan penelitian untuk membuktikan bahwa pada pelepasan skala terbatas, Ae. aegypti ber-Wolbachia dapat berkembang biak dan mempunyai kemampuan untuk menghambat replikasi virus dengue di tubuh nyamuk.

Setelah berhasil membuktikan bahwa intervensi Ae. aegypti ber-Wolbachia dapat dilakukan, dapat diterima masyarakat dan pemangku kepentingan, serta hasilnya stabil, maka lima tahun fase penelitian berikutnya  yang direncanakan mulai 2016 sampai 2020 dirancang untuk menyediakan bukti efektivitas intervensi tersebut untuk menurunkan kejadian Demam Berdarah di Yogyakarta. Fase ini akan memberikan bukti ilmiah yang tertinggi kepada masyarakat global untuk menunjukkan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.


FASE 1 : September 2011 – September 2013

Sasaran:   Membuktikan keamanan dan kelayakan teknologi Ae. Aegypti ber-Wolbachia

Capaian:

  • Membangun infrastruktur yang diperlukan dan memperoleh kelaikan etik penelitian dan ijin operasional.
  • Survei entomologi dan penerimaan publik, pembangunan laboratorium diagnostik dan laboratorium insektarium

Bukti:

  • Wolbachia terdapat pada 60% serangga liar yang hidup di Yogyakarta.
  • Nyamuk Aegypti ber-Wolbachia lokal yang akan dilepas telah mempunyai karakteristik genetik yang sama dengan Ae. Aegypti liar di wilayah penelitian.
  • Diperoleh kelaikan etik penelitian dan ijin operasional untuk pelepasan nyamuk di wilayah tertentu.
  • Di laboratorium, aegypti ber-Wolbachia memiliki virus Dengue yang lebih rendah dibandingkan dengan Ae. aegypti liar.
  • Masyarakat dan pemangku kepentingan dapat memahami dan menerima teknologi Wolbachia.
  • Diperoleh ijin melakukan penelitian dari berbagai pihak dengan persetujuan masyarakat.

 


FASE 2 : September 2013 – Desember 2015

Sasaran:   Membuktikan bahwa pada pelepasan skala terbatas, Ae. Aegypty ber-Wolbachia dapat berkembang biak dan mempunyai kemampuan untuk menghambat replikasi virus dengue di tubuh nyamuk.

Capaian:

  • Penilaian kelayakan implementasi dan keamanan teknologi
  • Pelepasan skala terbatas di empat wilayah di Kabupaten Sleman dan Bantul

Bukti:

  • Sebagian besar masyarakat (>95%) menyetujui pelepasan nyamuk dewasa aegypti ber-Wolbachia di Sleman dan seluruh RT (100%) di wilayah pelepasan Bantul menyetujui pelepasan dengan cara peletakan telur Ae. aegypti ber-Wolbachia dalam ember
  • Pelepasan nyamuk dewasa di Nogotirto dan Kronggahan, Kec. Gamping Kabupaten Sleman selama 24 minggu (Jan-Juni 2014) dan dihentikan Juni 2014.
  • Peletakan ember berisi telur di Jomblangan dan Singosaren, Kec. Banguntapan, Kabupaten Bantul selama 20 minggu (Nov 2014-Mei 2015) dan dihentikan Mei 2015.
  • Monitoring selama 4 tahun hingga saat ini menunjukkan bahwa sebagian besar (>80%) nyamuk aegypti telah ber-Wolbachia. Hal ini membuktikan bahwa nyamuk ber-Wolbachia dapat berkembang biak alami, sehingga intervensi berkelanjutan
  • Tidak ada perbedaan jumlah populasi nyamuk yang signifikan sebelum dan sesudah periode pelepasan nyamuk dewasa atau peletakan telur nyamuk di wilayah penelitian.
  • Hasil studi serologi pada bloodfeeder dan masyarakat di wilayah pelepasan Sleman membuktikan bahwa Wolbachia tidak dapat masuk ke dalam tubuh manusia dan tidak dapat ditularkan horizontal ke serangga lainnya.

 


FASE 3 : Januari 2016 – Desember 2020

Sasaran:   Membuktikan bahwa kejadian Demam Berdarah di wilayah intervensi Ae. Aegypti ber-Wolbachia lebih rendah dibanding wilayah tanpa Ae. Aegypti ber-Wolbachia

Capaian:

  • Pelepasan skala luas di wilayah kota Yogyakarta
  • Studi aplikasi Wolbachia untuk Eliminasi Dengue (AWED)

Bukti:

  • Kemungkinan risiko yang diakibatkan oleh teknologi aegypti ber-Wolbachia dalam 30 tahun mendatang adalah paling rendah, yaitu risikonya dapat diabaikan (negligible).
  • Dilakukan dua desain studi secara paralel, yaitu studi Kuasi-Eksperimental dan studi Cluster Randomized Control Trial (AWED-Application of Wolbachia to Eliminate Dengue)
  • Wilayah studi adalah seluruh Kota Yogyakarta dan 2 desa di kabupaten Bantul. Terdapat wilayah yang diberi intervensi aegypti ber-Wolbachia dan wilayah kontrol.
  • Pemantauan kasus dengue dengan dua cara: (1) berbasis sistem surveilans Kementerian Kesehatan untuk penyakit Demam Berdarah (DB) di wilayah studi kuasi-eksperimental; dan (2) menggunakan diagnosis terkonfirmasi virologis pada studi AWED sehingga diagnosis DB pada pasien yang datang ke Puskesmas lebih akurat
  • Hasil pemantauan kasus DBD di studi kuasi-eksperimental sampai dengan akhir Februari 2019 menunjukkan bahwa wilayah yang diberi intervensi aegypti ber-Wolbachia memiliki insidensi kejadian Dengue 72% lebih rendah dibanding wilayah kontrol
  • Studi AWED hingga Desember 2018 telah merekrut 836 pasien dengan suspek Dengue, dan 34 diantaranya positif Dengue. Analisis efek intervensi akan dilakukan setelah jumlah pasien Dengue terpenuhi.

 


FASE 4       

Sasaran:   Perumusan rekomendasi kebijakan

Build the good evidence: with good clinical practice

Ketika bukti berujud testimoni tidak mencukupi, suatu studi epidemiologi standar dirancang untuk mendapatkan data yang akan menghasilkan bukti yang dapat diterima oleh komunitas ilmiah mengenai kemampuan Wolbachia untuk menurunkan kasus demam berdarah. Fase 3 WMP merupakan fase penting untuk pelaksanaan studi tersebut, studdi yang telah dirancang dengan baik harus dilakukan dengan baik pula untuk bisa memberikan bukti yang baik. Pelaksanaan penelitian dituntut harus memenuhi kaidah cara uji klinik yang baik (CUKB) meliputi kualitas data dan etika penelitian. Selama tahun 2018, monitor eksternal dari Oxford University Clinical Research Unit (OUCRU) Vietnam telah berkunjung satu kali ke WMP Yogyakarta pada Mei 2018, tujuan dari kunjungan tersebut adalah untuk menilai apakah tim WMP telah melaksanakan penelitian sesuai dengan kaidah CUKB. Hasil penilaian OCRU di tahun 2018 menunjukkan bahwa tim WMP telah melakukan penelitian dengan baik dan memenuhi standar internasional CUKB.

Build the good evidence: with efforts to increase participation rate

Beberapa faktor dapat menentukan apakah penelitian yang dilakukan dapat memberikan hasil yang baik, dan salah satu diantaranya adalah angka partisipasi masyarakat dalam penelitian. Partisipasi dari masyarakat target penelitian adalah komponen penting, bisa dibayangkan apabila sebagian besar masyarakat tidak ingin berpartisipasi di dalam penelitian tentunya penelitian tidak dapat berjalan maksimal, dan tentunya akan berdampak terhadap hasil penelitian.Di awal perjalanan studi klinik fase 3 WMP atau yang dikenal sebagai studi AWED, tim WMP hanya mampu mendapatkan angka partisipasi sebesar 40% artinya bahwa hanya 4 dari 10 orang yang memenuhi syarat penelitian mau berpartisipasi di dalam studi. Tidak puas dengan angka ini, tim WMP kemudian mencoba memetakan alasan-alasan mengapa pasien-pasien yang berkunjung ke puskesmas dan telah memenuhi syarat penelitian menolak untuk berpartisipasi, dan tim WMP menemukan bahwa alasan terbesarnya adalah takut terhadap prosedur pengambilan darah menggunakan jarum suntik. Ketakutan ini ditemukan baik pada orang dewasa dan anak.  Perlu diketahui bahwa penelitian AWED dilakukan di Puskesmas, dan bagi mereka yang setuju untuk berpartisipasi tim peneliti akan mengambil darah sebanyak kurang lebih ¾ sendok makan dari pembuluh darah menggunakan jarum untuk diperiksa lanjut di laboratorium WMP. Kaji literatur, kaji studi lain yang memiliki prosedur yang sama dilakukan oleh tim WMP untuk mendapatkan cara-cara untuk mengatasi hal tersebut diatas. Beberapa rekomendasi didapatkan dan diimplementasikan, diantaranya adalah menyediakan jarum dengan ukuran yang lebih kecil, melatih kembali petugas analis laboratorium tentang tata cara pengambilan darah dan memonitor secara langsung (on job training) dan menambahkan penggunaan krim pereda nyeri topical dalam prosedur pengambilan sampel darah.

Tim peneliti WMP juga mengidentifikasi bahwa keterpaparan terhadap Wolbachia sebelumnya menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kesediaan pasien yang berkunjung di puskesmas untuk mau berpartisipasi dalam studi AWED, sehingga dirancanglah beberapa upaya untuk meningkatkan paparan masyarakat terhadap Wolbachia dengan target sasaran masyarakat yang berkunjung ke puskesmas. Pembuatan media banner studi AWED, sosialisasi penelitian AWED melalui pitpaganda di puskesmas, sosialiasi kepada kelompok ibu-ibu kelurahan siaga dan PKK di wilayah puskesmas dengan angka partisipasi yang rendah, menyebarkan pesan kunci untuk berkunjung ke puskesmas kepada responden-responden perangkap nyamuk. Tim entomologi lapangan dan tim pelibatan masyarakat sangat berperan dalam meningkatkan keterpaparan masyarakat terhadap studi AWED dengan harapan akan meningkatkan angka partisipasi.

Build the good evidence: good trial organization

Uji klinis merupakan suatu platform terbaik dalam bidang kesehatan untuk mendapatkan bukti mengenai keberhasilan suatu obat atau terapi atau intervensi untuk suatu penyakit. Keberadaan trial steering committee(TSC) dan independent data monitoring committee (IDMC) yang terdiri dari para ahli dalam uji klinis, ahli dalam penyakit yang diteliti, ahli dalam analisis data merupakan keharusan didalam organisasi suatu uji klinik.  TSC didalam studi AWED diketuai oleh dr.Siswanto,M.Kes,yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua Badan Litbangkes Kemenkes RI mempunyai tugas untuk memonitor jalannya penelitian, memutuskan rekomendasi-rekomendasi yang harus dilakukan oleh tim untuk memperbaiki jalannya penelitian dan termasuk memutuskan apakah penelitian akan lanjut atau dihentikan berdasarkan rekomendasi dari IDMC. Dalam studi AWED, TSC telah dibentuk pada tahun 2017 dan selama tahun 2018 TSC telah bertemu sebanyak dua kali yaitu pada tanggal XX dan 31 October 2018. IDMC di dalam studi AWED beranggotakan ahli independen yang terdiri dari ahli epidemiologi dari LSTMH, ahli penyakit infeksi dari UI dan ahli virology dari NUS-Duke. Peran utama IDMC adalah untuk melihat keamanan dari penelitian yang dilakukan dan memberikan rekomendasi kepada TSC terkait dengan keamanan partisipan dan hasil analisis interim penelitian apakah data yang dikumpulkan telah mampu memberikan bukti. Pertemuan IDMC selama tahun 2018 dilakukan sebanyak satu kali pada tanggal 27 Juli 2018 melalui sistem IT videoconference, dan salah satu kesimpulan dalam pertemuan tersebut adalah IDMC meminta tim WMP untuk melaporkan keberadaan adverse event berupa rawat inap di rumah sakit kepada IDMC melalui email setiap ada tambahan 20 partisipan yang dirawat inap guna memonitor keamanan.

Build the good evidence: ensure the quality of diagnostic laboratory

Mesikpun alat laboratorium yang digunakan memiliki kualitas yang baik, personel laboratorium juga telah dilatih dengan baik, prosedur operasi standar telah dijalankan dengan baik, namun hal-hal yang telah dilakukan dengan baik secara internal tidaklah cukup, kualitas yang baik tersebut juga harus dicek secara eksternal sebagai salah satu upaya untuk menjamin kualitas hasil yang diproduksi oleh laboratorium diagnostic WMP. Sebanyak 100 sampel manusia dengan hasil pemeriksaan PCR negative dan positif dikirimkan ke Eijkman Institute untuk diperiksa ulang.

Yayasan Tahija sangat mendukung alih teknologi dari Monash University, Australia kepada para peneliti lokal dengan membangun fasilitas Vector Competence di laboratorium Diagnostik EDP-Yogya.  Vector Competence merupakan kemampuan serangga seperti nyamuk untuk terinfeksi dan untuk menularkan penyakit. Studi vector competence ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia untuk memodifikasi infeksi virus dengue dalam pencegahan penularan virus dengue

2013:

Pada awal penelitian EDP-Yogya, studi untuk membandingkan kemampuan menekan perkembangan virus dengue di dalam tubuh nyamuk antara Ae. aegypti lokal Yogyakarta ber-Wolbachia dengan Ae. aegypti lokal Yogyakarta tanpa Wolbachia masih dilakukan di Oxford University Clinical Research Unit, Vietnam.

2015:

  • Pada pertengahan tahun 2015 di Monash University, Australia dilakukan studi Vector Competence terhadap nyamuk aegypti dua tahun paska pelepasan di wilayah penelitian Singosaren dan Nogotirto di Yogyakarta.

Telur yang ditetaskan menjadi nyamuk dewasa kemudian di uji kemampuannya dalam menekan replikasi virus dengue di dalam tubuhnya.  Hasil studi menunjukkan bahwa efek anti dengue masih dimiliki oleh nyamuk Ae. aegypti ber-Wolbachia setelah nyamuk tersebut mampu bekembang dan bertahan hidup di populasi alami nyamuk di wilayah penelitian selama hampir dua tahun.

  • Melengkapi Laboratorium diagnostik dengan tingkat keamanan hayati kedua (biosafty level, BSL2), pada September 2015 Yayayasan Tahija membanguan laboratorium Vector Competence dengan menggunakan standar sertifikasi ACL2 (Anthropod Containment Laboratory Level 2).
  • Pada tahun 2015 EDP-Yogya juga mulai melakukan modifikasi darah yang digunakan sebagai pakan nyamuk, membrane, virus dan lainnya

2018:

WMP-Yogya berhasil memasukan virus dengue ke dalam tubuh nyamuk, baik menggunakan Artificial Blood Feeding maupun Nano injection serta mampu melakukan kultur virus dengue sendiri.

Memasuki fase ke-3 berjalannya EDP Yogya dukungan para pemangku kepentingan (stakeholders) bagi pelaksanaan studi AWED semakin menguat. Di saat bersamaan langkah-langkah strategis untuk mengimplementasikan teknologi nyamuk Ae. aegypti ber-Wolbachia pada skala yang lebih luas semakin terbuka untuk dibicarakan. Dukungan ini didapatkan melalui pendekatan-pendekatan baik yang bersifat fomal maupun informal melalui jaringan-jaringan yang bersifat pribadi dan atau profesional. Meskipun demikian masih terdapat beberapa isu penting untuk diperhatikan terkait dengan sinergi teknologi baru ini dengan program pencegahan dengue yang dijalankan oleh pemerintah.

Pendekatan Formal dan Dukungan Kementrian Kesehatan

Dukungan pemerintah nasional terhadap berjalannya studi Aplikasi Wolbachia untuk Eliminasi Dengue (AWED) di tahun 2018 terlihat dengan keterlibatan aktif Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan RI sebagai ketua Trial Steering Committee (TSC) yang secara aktif memberikan masukan dan solusi bagi pelaksanaan studi AWED. Pada tahun 2018 TSC juga memberikan persetujuannya bagi perpanjangan masa studi dan perluasan cakupan partisipan studi.

Kementrian Kesehatan juga semakin terbuka terhadap tekhnologi nayamuk Ae. aegypti ber-Wolbachia sebagai salah satu alternatif strategi pengendalian vektor dengue. Pada Peringatan Hari Nyamuk Nasional dan ASEAN Dengue Day pada tanggal 17 September 2018 di Surabaya, Dalam presentasi Menteri Kesehatan yang disampaikan Dirjen P2P disebutkan bahwa tekhnologi Wolbachia merupakan salah satu tekhnologi pontesial bagi pengendalian vektor dengue. Pernyataan ini membuka peluang bagi tekhnologi Wolbachia untuk dibicarakan sebagai bagian dari kebijakan dan program pemerintah.

Pendekatan informal dan Dukungan Pemerintah Daerah

Pendekatan formal merupakan salah satu strategi EDP Yogya untuk mendapatkan perhatian dan menggalang dukungan dari para pemangku kepentingan. Namun demikian pendekatan tersebut tidak akan berhasil tanpa pendekatan yang bersifat informal baik melalui jejaring professional maupun jejaring sosial perkawanan atau gabungan dari keduanya. Keberhasilan pendekatan seperti ini terlihat dari kuatnya dukungan dari Pemerintah Kota Yogyakarta dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kedekatan EDP dengan pemerintah Kota Yogyakarta terlihat dari beberapa kegiatan kolaboratif antara EDP Yogya dengan Dinas Kesehatan dan keterlibatan pemerintah Kota Yogya dalam kegiatan EDP Yogya seperti keterlibatan Walikota Yogyakarta pada pertandingan tenis meja pada acara “Obah Bareng EDP Yogya “ yang diselenggarakan pada tanggal 6 & 7 Juli 2018.

Isu dan Upaya Sinergi

Pada proses pendekatan baik formal maupun informal, muncul beberapa isu terkait dengan pelaksanaan penelitian maupun kemungkinan implementasi teknologi Wolbachia ke depan. Beberapa isu tersebut antara lain adalah mengenai keselarasan antara program pemerintah seperti PSN, fogging, dan pemberian larvasida dengan tekhnologi Wolbachia yang seakan bertentangan dengan tujuan program-program tersebut karena dianggap akan menambah jumlah nyamuk dan jentik nyamuk.

Isu teknis lain yang juga muncul sebagai pembicaraan seperti kemungkinan penggunaan nyamuk lokal, kemungkinan penularan bakteri Wolbachia ke manusia, kemungkinan mutasi genetik nyamuk ber-Wolbachia, dll.  yang disampaikan oleh Direktorat P2PTVZ maupun Balai Besar Vektor Salatiga. Semua pertanyaan teknis tersebut telah terjawab pada pertemuan antara EDP dengan para pemangku kepentingan tersebut.

Terkait dengan isu keselarasan dengan program pemerintah, tekhnologi Wolbachia bersifat melengkapi strategi dan program yang saat ini dijalankan oleh pemerintah. Secara empiris EDP juga bisa menunjukkan bahwa penyebaran telur dan nyamuk Ae. aegypti ber-Wolbachia pada akhirnya tidak berpengaruh pada jumlah populasi nyamuk di suatu wilayah. Menjawab mengenai beberapa kekhawatiran yang disampaikan oleh Direktorat P2TVZ dan Balai Besar Salatiga, EDP Yogya juga mampu menunjukkan bukti-bukti ilmiah baik yang diperoleh melalui studi yang dilakukan EDP sendiri maupun yang ditulis oleh peneliti lain dalam jurnal-jurnal ilmiah internasional.

Melalui pendekatan-pendekatan formal dan informal dengan dukungan bukti-bukti ilmiah di atas lah, dukungan terhadap EDP Yogya dari para pemangku kepentingan nasional maupun daerah semakin menguat.

Ibu Sugeng

(kader sejak awal kegiatan penelitian EDP/WMP di Jomblangan sampai saat ini sebagai kader pendamping Ovitrap di wilayah Jomblangan).

Saya terlibat sejak awal kegiatan EDP/ WMP di Jomblangan, termasuk mendampingi pemasangan ovitrap di masyarakat setiap 6 bulan sekali.  Terlibat dalam kegiatan penelitian EDP/WMP menjadikan pengetahuan saya bertambah dan di warga pun menjadi semakin dikenal dan menambah silaturahmi.

Setelah adanya pelepasan nyamuk ber-Wolbachia, masyarakat yang tinggal di wilayah yang tidak dilepaskan sering menanyakan, “Mengapa di tempat saya tidak ada kegiatan pelepasan nyamuk ber-Wolbachia.  Mereka justru iri, karena turunnya kasus Demam Berdarah di Jomblangan.”

 


Bapak Surahmin

Dukuh Karangtengah tempat tinggal Pak Surahmin merupakan salah satu pedukuhan di Site Nogotirto tempat pelepasan nyamuk Ae. Aegypti ber-Wolbachia yang pertama pada tahun 2014.

Sebagai Dukuh Karangtengah Pak Surahmin mempunyai andil besar dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, termasuk menghadapi penolakan 5 RT dari 17 RT di wilayah Karangtengah. Secara pribadi Pak Surahmin sangat mendukung penelitian yang bertujuan untuk mengurangi DBD serta memberikan masukan dan berharap penelitian ini membawa manfaat kepada lingkungan kita dan seluruh masyarakat Indonesia.

 


Bapak Soegiarto

Bapak Soegiarto telah menjadi responden BGTrap sejak awal adanya penitipan alat perangkap nyamuk di tahun 2015. Ia bersedia menjadi responden adalah karena ia  paham bahwa kegiatan EDP/WMP memiliki misi yang berorientasi pada kesehatan yang merupakan kebutuhan dasar. Pak Soegiarto berharap berpartisipasinya dalam kegiatan dapat membuat masyarakat bisa hidup sehat, bebas dari penyakit khususnya Demam Berdarah.

 

 


Waidi, Karangwaru

Waidi sebagai ketua RT di Keluruhan Karangwaru sangat antusias membantu peletakan ember di lingkungan sekitar tempat tinggalnya.   Ia juga menancapkan bilah bambu di sekeliling ember untuk melindunginya “biar tidak dibuat mainan anak-anak, dalih Waidi. Ember yang diletakan di sekitar rumahnya selalu dipantau, alhasil hingga periode peletakan ember berakhir, tak satupun ember di sekitar rumahnya yang hilang.